ARy

RUANG LINGKUP KEPEMIMPINAN ISLAM

RUANG LINGKUP KEPEMIMPINAN ISLAM



a.    Manusia kepada manusia lain (QS. Al-An’am 6:165)
b.    Suami/Ayah kepada keluarga
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim 66:6)
c.     Laki-laki terhadap perempuan
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah Melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)…” (QS. An-Nisaa 4:34)
d.    Setiap manusia kepada dirinya sendiri
“Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawaban tentang rakyatnya. Pemerintah adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Lelaki itu adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Wanita itu adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap yang dimpimpinnnya (suami dan anak). Pembantu itu adalah pemimpin dalam menjaga harta majikannya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.” (Muttafaq’alaih)
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS.Maryam 19:95)
e.     Manusia kepada makhluk Allah lainnya
“Ingatlah ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak Menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak Menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyuci-kan Engkau?” Tuhan Berfirman, “Sesungguhnya Aku Menge-tahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah 2:30)
Sebaik-baik pemimpin :
“Sebaik-baik pemimpinmu ialah yang kamu cintai dan cinta pada kamu dan kamu do’akan dan mereka mendo’akan kamu. Dan sejahat-jahat pemimpinmu ialah mereka yang kamu benci dan membenci kamu, dan kamu kutuk dan mengutuk kamu. Sahabat bertanya: Bolehkan kami menen-tang (melawan) mereka? Jawabnya: Tidak, selama mereka tetap menegakkan shalat.” (HR. Muslim)