TEORI – TEORI BELAJAR


Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Justru dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar, maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Beberapa aliran psikologi pendidikan, masing-masing yaitu :
-          Psikologi behavioristik
-          Psikologi kognitif
-          Psikologi humanistik
Ketiga aliran psikologi pendidikan di atas tumbuh dan berkembang secara beruntun, dari periode ke periode berikutnya. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori-teori tentang belajar. Teori belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok teori belajar yaitu :

1.      Teori-teori belajar psikologi behavioristik
Beberapa teori belajar dari psikologi berhavioristik dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “ Contemporary bahaviorists ” atau “ S-R psy_Chologists”. Mereka berpendapat, bahwa tingka laku manusia itu dikendalikan ganjaran ( reward ) atau penguatan ( reinforcement ) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingka laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dan stimulasinya.
a.       Teori – teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik
Dipelopori oleh Thorndike Pavlov, Watson dan Guthrie. Teori belajar Thorndike ( 1874-1949 ) disebut “ Connectionism ” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi  antara stimulus dan respon. Teori ini sering pula disebut  “ Trial-and –error leraning ”. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil- hasil penelitiannya terhadap tingkah laku berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Ciri-ciri belajar dengan trial and error yaitu : (1). Ada motif pendorong aktivitas (2). Ada berbagai respon terhadap situasi. (3). Ada eliminasi respon-respon yang gagal/ salah. (4). Ada kemajuan  reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Ivan Pavlov ( 1849-1936 ) juga menghasilkan teori belajar yang disebut “ Classical Conditioning ” atau “Stimulus Substitution”. Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing diberi stimuli bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing.
John B. Watson ( 1878-1958) menurut Watson, manusia dilahirkan dengan beberapa reflek dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respon baru melalui “ Conditioning ”. salah satu percobaannya adalah terhadap anak berumur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstrinsik, dengan mengulang stimuli bersyarat tanpa dibarengi stimuli tak bersyarat. 
E.R Guthrie ( 1886-1959 ) prinsip belajar disebut “ The law of association” menurut Guthrie, belajar memerlukan reward dan “kedekatan” antara stimulus dan respon. Guthrie berpendapat, bahwa hukuman itu tidak baik dan tidak pula buruk. Efektif tidaknya hukuman tergantung pada hukuman itu menyebabkan murid belajar ataukah tidak.
B. Skinner’s Operant Conditioning
Skinner’s membagi dua jenis respon dalam proses belajar yakni
  1. Respondents   : repon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlov.
  2. Operants          : Respon yang terjadi karena situasi random.

Perbedaan penting antara pavlov’s classical conditioning dan skinners’s operant conditioning ialah dalam clasical conditioning, akibat-akibat suatu tingkah laku itu. Reinforment tidak diperlukan karena stimulusnya menimbulkan respon yang diinginkan.
Operants conditioning, suatu situasi belajar dimana suatu respon dibuat lebih kuat akibat reinforment langsung. Dalam percobaannya terhadap tikus-tikus dalam sangkar, digunakan suatu “diskriminative stimulus” (tanda untuk memperkuat respon) misalnya tombol, lampu pemindah makanan. Dalam pengajaran,  operant conditioning menjamin respon-respon terhadap stimuli. Apabila murid tidak menunjukan reaksi-reaksi terhadap stimuli, guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya kearah tujuan behavior. Guru berperan penting untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar kearah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.

2.      Teori-teori belajar psikologi kognitif.
a.       Awal pertumbuhan teori-teori belajar psikologi kognitif
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt” peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer ( 1880-1943 ) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Kurt Koffka ( 1886-1941 ) menguraikan tentang hukum-hukum pengamatan. Wolfgang Kohler ( 1887-1959 ) meneliti tentang “insight” pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka menumbukan psikologi Gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimuli dalam keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah. Tingkat kejelasan dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang dari pada dengan hukum atau ganjaran.

b.      Teoti belajar “Cognitive-field” dari Lewin
Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan teorri belajar “cognitive-field” dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku ,manusia merupakan hasil interaksi antara kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perbuatan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kegiatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu.

c.       Teori belajar “Cognitive-developmental” dari piaget
Dalam teorinya, piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual dari pada fungsi intelektual dari kongkrit menuju abstrak. Piaget adalah psikolog “developmental” karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga aspek yaitu structure, content, function. Piaget mengartikan inteligensi adalah sejumlah struktur psikologi yang ada pada tingkat perkembangan khusus.
Tahap-tahap perkembangan
Piaget mengindentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi terhadap perkembangan anak yaitu :
1.      Kematangan
2.      Pengembangan fisik / lingkungan
3.      Transmisi sosial
4.      Equalibrium / self regulation
Selanjutnya ia membagi tingkat-tingkat perkembangan :
1.      Tingkat sensoris motoris   : 0,0-2,0
2.      Tingkat praoperasional      : 2,0-7,0
3.      Tingkat operasi kongkrit   : 7,0-11,0
4.      Tingkat operasi formal      : 11,0-...

d.      Jerome Bruner dengan “Discovery learningnya”
Discovery learning yaitu dimana murid mengorganisir bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
The act of dicovery dari Bruner :
1.      adanya suatu kenaikan di dalam potensi intelektual
2.      Ganjaran intrinsik lebih ditekankan dari pada ekstrinsik
3.      Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
4.      Murid lebih senang mengingat-ingat informasi.