contoh PTK PGSD Judul ““Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Penerapan Metode Assurance, Relepance, Interest, Assessment, Satisfaction (ARIAS) pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 36 Kota Bengkulu”



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan manusia, karena melalui pendidikan akan dapat menciptakan manusia yang berpotensi, kreatif dan memiliki ide cemerlang sebagai bekal untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Sebagaimana pendidikan diatur dalam Undang-undang Sistem Pendidkan Nasional (UUSPN) Nomor 20 Tahun 2003 yang menetapkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Seiring dengan kemajuan zaman, pengetahuanpun juga semakin berkembang. Suatu negara bisa lebih maju jika negara tersebut memiliki sumber daya manusia yang mengetahui berbagai ilmu pengetahuan disamping teknologi yang sedang berkembang pesat sekarang ini. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) meru­pakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang meng­kaji seperangkat peristiwa, fakta, kon­sep, dan generalisasi yang berkaitan dengan masalah sosial. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indo­nesia yang demokratis, bertanggung jawab, dan menjadi warga dunia yang cinta damai.
Untuk memberi motivasi-motivasi tentang pentingnya kehidupan sosial kepada siswa, maka pembelajaran IPS di SD perlu adanya inovasi yang relevan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis ter­hadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan masyarakat yang dinamis, dan diharapkan bisa melahirkan regenerasi yang
1
memiliki kompetensi handal, yang mampu memberi warna dan perubahan demi cita-cita bangsa. Dan jika kita menelaah keberhasilan dalam proses belajar mengajar maka tidak akan terlepas dari dua unsur pokok yaitu unsur guru dan siswa. Guru dituntut mampu membimbing anak kearah kedewasaan sesuai dengan tujuan pendidikan. Nasution mengatakan fungsi guru yang paling utama adalah memimpin anak-anak, membawa mereka kearah dan tujuan yang tegas. Dalam pengajarannya guru perlu memberi bimbingan pemecahan masalah dalam rangka melatih dan meningkatkan cara berpikir siswa.
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak (siswa) sering kali menjumpai fenomena-fenomena yang berhubungan dan berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial. Sebelum anak-anak datang ke sekolah, mereka telah terbiasa berhubungan dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Mereka bersosialisasi dengan lingkungan terdekatnya dan tahu bahwa orang tua berkomunikasi dengan orang lain. Anak-anak pun terbiasa menonton acara di televisi dan melihat berbagai kejadian. Mereka melihat orang tua membaca koran atau majalah, membayar barang yang dibelinya atau bahkan mereka pun tahu bahwa orang tuanya tidak ada di rumah karena bekerja. Meskipun kebanyakan dari anak-anak tersebut hanya menyaksikan apa yang terjadi atau mendengar berbagai informasi dan belum memahami semuanya dengan jelas, mereka mendapatkan informasi secara tidak langsung bahwa lingkungan di mana mereka tinggal selalu dipenuhi dengan kegiatan orang dewasa serta terjadi interaksi antara satu sama lain. Hal inilah yang sebenarnya melekat diingatan mereka bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Mereka di kemudian hari menyadari bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan sosial yang didapat di sekolah.
Namun, kenyataan yang ada di sekolah jauh sekali dengan apa yang anak-anak harapkan. Saat belajar di sekolah, siswa jarang sekali diberi gambaran bahwa ilmu sosial adalah keilmuan yang sangat dekat dengan kehidupan  mereka. Materi yang diberikan selalu menitik beratkan kepada hafalan tanpa bekal keterampi­lan yang diperlukan dalam menghadapi masalah di kehidupan sehari-harinya. Berbagai keterampilan dalam ilmu sosial sering dilupakan di sekolah padahal sangat penting untuk dimiliki oleh siswa.
Dalam proses pembelajaran juga banyak kita temui permasalahan-permasalahan yang bisa mengancam turunnya kualitas pendidikan di Negara kita. Sering kita dengar para siswa khususnya siswa SD mengeluh jika dihadapkan pada mata pelajaran IPS. Keluhan-keluhan ini berakar pada proses pembelajaran yang tidak menanamkan wawasan, keterampilan, dan konsep yang nyata pada siswa yang menyebabkan ketuntasan belajar siswa belum tercapai dengan baik. Fakta kurang optimalnya pembelajaran IPS ini terlihat dari hasil ulangan umun IPS Kelas V SD Negeri 36 Bengkulu masih di bawah rata-rata dari pembelajaran yang dikatakan tuntas. Pembelajaran tuntas secara individual apabila siswa di kelas mendapatkan nilai 6,5 ke atas  dan pembelajaran secara klasikal proses belajar mengajar dikatakan tuntas apabila siswa di kelas memperoleh nilai 6,5 atau 6,5 ke atas sebanyak 85% (Depdiknas, 2009).                                        
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti sewaktu PPSSD II di Kelas V SD Negeri 36 kota Bengkulu, rendahnya hasil belajar IPS ini disebabkan oleh pembelajaran masih bersifat monoton yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru (Teacher Centre) sehingga situasi belajarnya terpusat pada pengajar, selain itu metode yang dipakai tidak bervariasi bentuknya sehingga siswa mengalami kesulitan  dalam mengikuti pelajaran dikarenakan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dirasakan kurang tepat. Dengan demikian proses belajar mengajar akan berlangsung kaku, sehingga kurang mendukung pengembangan pengetahuan, sikap, moral dan keterampilan siswa, hal ini menyebabkan siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam mengajar atau tergolong siswa yang pasif dan hanya sebagai pendengar. Dalam proses belajar mengajar di kelas juga terlihat siswa tidak bersemangat dan siswa merasa bosan karena tidak dilibatkan dalam proses belajar mengajar. Hal ini juga menyebabkan siswa malu untuk mengemukakan pendapatnya.                                                                                    
Selain itu, yang juga menjadi salah satu masalah dalam pembelajaran IPS di sekolah adalah rendahnya hasil belajar siswa. Suatu tes terhadap sejumlah siswa SD dari berbagai kabupaten dan propinsi Bengkulu menunjukkan hasil belajar siswa sangat rendah (Lastri 1993:12). Nilai Ujian Ahir Sekolah (UAS) siswa SD dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan hasil belajar yang kurang menggembirakan (Depdiknas, 2009). Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabrata (1982: 27) yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran). Bloom (1982: 11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan ini menyangkut model pembelajaran yang digunakan. (http://wijayalabs.wordpress.com/2008/04/22/model-model-pembelajaran/).
Pembelajaran yang masih bersifat konvensional juga menjadi kendala dalam pembelajaran IPS di SD, hal ini juga disebabkan karena siswa bersifat heterogen, mereka berbeda dalam hal bakat, kemampuan, kecerdasan, kreatif, motivasi, kecepatan belajar dan dalam hal lainnya. Dengan keadaan tersebut mengakibatkan kemampuan siswa yang berbeda-beda pula. Mereka terdiri atas siswa yang pandai, sedang dan kurang yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya kesenjangan diantara mereka karena siswa-siswa yang pandai semakin meningkat kemampuan belajarnya sedangkan siswa yang sedang dan kurang tidak mengalami perubahan dalam peningkatan belajar.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, jelaslah terlihat bahwa pembelajaran di kelas tidak sesuai dengan tahapan perkembangan siswa Sekolah Dasar. Oleh karena itu, agar siswa dapat memahami materi-materi dan tercapainya tujuan pembelajaran IPS di SD, maka tidak cukup hanya dengan metode ceramah, tetapi harus juga dikembangkan model pembelajaran yang membantu siswa untuk lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit.
Untuk itu perlu diupayakan suatu model pembelajaran yang dapat membantu siswa agar menjadi lebih aktif dalam belajar. Salah satunya adalah model pembelajaran ARIAS. Model pembelajaran ARIAS membantu siswa dalam memahami dan menekankan materi pembelajaran yang membuat siswa tidak jenuh dalam proses belajar-mengajar dan fokus pada pelajaran sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran. (Keller, John M. dan Thomas W. Kopp. 1987. An application of the ARCS model of motivational design, dalam Charles M. Reigeluth (ed), Instructional theories in action, 289-319. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers).
Peneliti memilih model pembelajaran ARIAS karena model pembelajaran ARIAS merupakan model pembelajaran yang terdiri dari lima komponen yaitu assurance, relevance, interest, assessment and satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa, kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/ perhatian siswa kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan(reinforcement).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatah (2004) tentang Penerapan Strategi Motivasi ARIAS yang Berorientasi Pada Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe TPS Pada Pokok Bahasan Lingkaran I di SMP Negeri 1 Driyorejo kabupaten Gresik dan penelitian yang dilakukan oleh Setyowati (2004) tentang Penerapan Strategi Motivasi ARIAS yang Berorientasi Pada Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe TPS Pada Pokok Bahasan Lingkaran di SMP Negeri 3 Gresik, menunjukkan bahwa aktivitas guru dan siswa serta hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Serta penelitian yang dilakukan oleh Sopah (1998) studi tentang model peningkatan motivasi berprestasi siswa yang dilakukan di dua tempat yaitu di SD Negeri di Kota Palembang dan SD Negeri di Sekayu Kabupaten Musi Banyu Asin yang keduanya memberikan hasil bahwa ada pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar. Motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran ARIAS lebih tinggi daripada yang mengikuti model pembelajaran yang non-ARIAS.
Ketiga fakta ini memberikan nilai yang positif untuk penerapan model pembelajaran ARIAS.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “
“Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Penerapan Metode Assurance, Relepance, Interest, Assessment, Satisfaction (ARIAS) pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 36 Kota  Bengkulu” http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/kimia/implementasi-model-pembelajaran-assurance-relevance-interest-asses


Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
  1. Bagaimana proses pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran ARIAS di kelas V SD Negeri 36 Kota Bengkulu?
  2. Bagaimana hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 36 Kota Bengkulu setelah penerapan model pembelajaran ARIAS?

A.      Tujuan Penelitian
 Penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mendeskripsikan  peningkatan  mutu proses   belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri 36 Kota Bengkulu dengan model pembelajaran ARIAS
2.      Mendeskripsikan  peningkatan  hasil   belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri 36 Kota Bengkulu  dengan model pembelajaran  ARIAS
B.       Manfaat Penelitian
1.      Bagi sekolah
Dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan  kualitas pembelajaran pada sekolah tempat penelitian ini dilakukan, dapat menjadikan masukan yang positif bagi sekolah dalam peningkatan kualitas perbaikan pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar.
2.      Bagi guru
Dapat menjadi salah satu alternatif pemilihan model pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar selanjutnya agar siswa tidak menjadi bosan dalam pembelajaran.
3.      Bagi siswa
Dapat membiasakan diri belajar aktif dan bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam IPS selain itu seorang siswa akan memperoleh figur guru yang mereka inginkan karena dalam pelaksanan PTK telah mampu menciptakan pembelajaran yang enjoyable dan penuh perhatian serta kasih sayang.
4.      Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan tentang pembelajaran IPS terutama tentang penerapan pembelajaran ARIAS